02 Oktober 2011

Tahun II - No. 40

 

KEBUN ANGGUR DIBERIKAN KEPADA PENGGARAP LAIN
Bacaan: Mat. 21:33-43


Dalam minggu ini, kita mendengarkan kembali perumpamaan yang diberikan Yesus kepada para pengikutNya. Yesus juga memahami bahwa dengan menggunakan perumpamaan, pesanNya akan mudah ditangkap. Penginjil, Matius menyuguhkan perumpamaan yang sangat berkaitan erat dengan kehidupan kita. Tema kali ini berbicara mengenai Kerajaan Allah yang diumpamaan dengan seorang tuan rumah yang mempercayakan kebun anggurnya kepada petani-petani penggarap.

Dalam ay.33-41 dilukiskan tentang penggarap-penggarap yang diberikan kepercayaan untuk mmenggarap kebun anggur. Tuan tanah mengharapkan agar setelah ia pulang dari bepergian, ia dapat memetik hasilnya dengan baik. Tuan tanah sangat terkejut karena ternyata petani-petani penggarap yang ia percayakan tidak menghasilkan yang diharapkan.

Gagal! Bahkan yang lebih mengecewakan adalah bahwa hamba-hamba yang ia utus itu ditolak, ditangkap dan bahkan dibunuh. Ketika anaknya sebagai ahli warisnya diutus, dia pun ditangkap dan dibunuhnya bahkan dilempar keluar. Akhirnya tuan tanah itu menyewakan kebun anggurnya pada penggarap-penggarap lain. Ay.42-43 berisi keterangan-keterangan yang menungkapkan bahwa anak yang dibunuhnya itu adalah Yesus sendiri; dan kebun anggur itu adalah Kerajaan Allah.

Perumpamaan ini mengisahkan tentang jati diri Yesus yang diperkenalkan sebagai Anak Allah dan sekaligus berbicara mengenai panggilan Gereja. Sejak semula, bangsa Israel dipilih sebagai bangsa pilihan Allah, namun bangsa ini menolak kehadiran Kerajaan Allah dalam diri Yesus Kristus. Yesus yang hadir dalam diri manusia tidak mampu dikenal dan diterima oleh bangsa pilihan ini. Maka, kemudian Allah memberikan tanggung jawabnya kepada penggarap lain, agar Kerajaan Allah terus berkembang. Gereja diberikan tanggung jawab agar memelihara dan menumbuhkan Kerajaan Allah ini.

Bacaan ini mengajarkan kita sebagai Umat Allah atau Gereja untuk mengembangkan dan menumbuhkan Kerajaan Allah. Gereja dipanggil untuk ikut bertanggungjaawab supaya berbuah banyak. Pendek kata, kita memiliki tanggungjawab bagaimana Allah semakin meraja dan berkuasa di dunia ini. Jangan sampai akhirnya kerajaan kejahatan ini justru berkembang dan memenuhi dunia. Kita sebagai warga Gereja turut mengembangkan cinta dan kebaikan Allah agar semua orang menikmati kedamaian.

Kita sadar bahwa kedamaian kita terguncang saat kejahatan merobek kebersamaan kita, kerukunan hidup kita dengan yang lain. Kitalah penggarap-penggarap yang menghasilkan buah-buah kebaikan, kebahagiaan dan kedamaian. Minggu lalu, kejahatan kembali merobek kerukunan, kedamaian dengan adanya teror-teror yang memecah belah kerajaan damai.

Marilah kita bersama membangun dunia ini agar Kerajaan Allah yang penuh cinta dan kasih ini merajai seluruh sendi kehidupan bersama. Marilah kita mohon rahmat kesatuan dari Tuhan kita Yesus Kristus.

Yus Noron, Pr
St. Maria Regina, Bintaro Jaya