25 September 2011

Tahun II - No. 39

 

MENJADI ANAK IDEAL


Injil hari Minggu ini (Mat 21:28-32) menceriterakan perumpamaan Yesus tentang dua orang anak yang berbeda antara kata dan perbuatannya. Anak yang satu, mengatakan “tidak mau” namun kemudian melakukan. Ini menunjuk kepada orang-orang berdosa yang pada awalnya tidak menyatakan ketaatan kepada Allah tetapi kemudian mau berubah dalam prakteknya. Sedang anak yang lain mengatakan “ya” tetapi tidak melakukan. Ini menunjuk pada para pemimpin Yahudi yang berjanji setia kepada Allah namun janji itu tidak terwujud dalam parktek.

Yang mau ditekankan dalam pewartaan Matius adalah peringatan yang ditujukan kepada elite agama dan bangsa Yahudi, yang dalam teori tidak diragukan namun dalam praktek tidak menunjukkan iman terhadap Kerajaan Allah. Pewartaan Kerajaan Allah, baik yang diserukan oleh Yohanes Pembaptis maupun diajarkan oleh Yesus, menuntut adanya perubahan tingkah laku atau pertobatan. Para pemungut cukai dan para pendosa lainnya yang dianggap buruk ternyata masih lebih baik daripada para elite Yahudi. Karena mereka dalam keburukannya lebih mau terbuka terhadap Kerajaan Allah, sementara para elite Yahudi justru semakin menutup diri terhadap kedatangan Kerajaan Allah dan pelaksanaan kehendakNya.

Untuk memahami dengan tepat perumpamaan ini, hal penting adalah bahwa perumpamaan ini tidak mau memuji salah satu dari kedua anak itu. Dari keduanya sesungguhnya tidak ada yang memuaskan ayahnya secara sempurna, meskipun yang akhirnya melakukan adalah lebih baik daripada yang tidak melakukan. Idealnya adalah anak yang mengatakan “ya” dengan sikap hormat dan taat penuh pengertian, dan kemudian melakukan sepenuhnya apa yang ia katakan.

Bila perumpamaan ini diterapkan dalam kehidupan umat beriman saat ini, maka umat yang ideal adalah umat yang memiliki komitmen tinggi. Secara sederhana memiliki komitmen berarti setia memenuhi janji atau bertanggung-jawab. Dalam suatu organisasi komitmen memiliki tiga komponen: Kesadaran akan tujuan dan nilai-nilai dari organisasi; kemauan untuk setia dan loyal terhadap organisasi; dan kesediaan bekerja keras untuk organisasi. Organisasi dalam hal hidup beriman adalah Gereja, yang terwujud mulai dari tingkat lingkungan, paroki, keuskupan, sampai Gereja universal.

Sebagai umat Keuskupan Agung Jakarta kita mempunyai cita-cita dan tujuan yang mengandung di dalamnya nilai-nilai iman, sebagaimana dirumuskan dalam Arah Dasar Pastoral. Usaha kita untuk mewujudkan Arah Dasar Pastoral merupakan pelaksanaan jawaban “ya” kita kepada Bapa di surga. Untuk itu penting bagi umat dari semua lapisan, bagian dan kelompok, untuk membangun komitmen. Belajar untuk semakin memahami dan menghayati nilai-nilai ajaran iman; membangun rasa memiliki paroki dalam semangat kebersamaan; dan bersedia bekerja sesuai bidang tugas dan kharisma masing-masing demi pengembangan paroki. Apa konkretnya dan bagaimana diwujudkannya, mari kita renungkan dan perjuangkan, agar dengan tuntunan Roh Kudus dan restu Bunda Maria Ratu kita semakin menjadi anak yang ideal.

Rm. H. Natawardaya
St. Maria Regina, Bintaro Jaya