18 September 2011

Tahun II - No. 38


Barnabas, Seorang Pemimpin Sejati

Berbicara tentang kepemimpinan tidak pernah dapat lepas dari tokoh-tokoh yang menghayati kepemimpinan yang benar. Barnabas adalah salah seorang tokoh yang pasti dapat ditampilkan sebagai contoh seorang pemimpin transformatif. Barnabas tidak dapat dipisahkan dari Paulus yang jelas lebih terkenal dan lebih besar daripada Barnabas. Tetapi sebenarnya harus dikatakan bahwa tanpa peran kepemimpinan Barnabas, Paulus tidak akan pernah menjadi seorang rasul agung.

Informasi mengenai Barnabas tidak banyak. Nama aslinya adalah Yusuf. Barnabas adalah nama panggilan yang berarti “anak penghiburan” (Kis 4:36). Julukan ini sudah menunjukkan corak kepemimpinannya. Ia adalah orang yang “baik, penuh dengan Roh Kudus dan Iman” (Kis 11:24). Ia adalah orang yang dapat meneguhkan hati orang (ay 23). Sesudah pengalaman berjumpa dengan Kristus dalam perjalanan ke Damsyik, Paulus ingin bergabung dengan para rasul di Yerusalem. Mereka tidak mau menerimanya, karena takut. Tetapi pada waktu itu Barnabas menerimanya dan membawanya kepada rasul-rasul (Kis 9:26 st). Barnabas pula yang mencari Paulus, ketika ia berada di Tarsus, karena rupanya tidak ada tempat lagi baginya. Barnabas mengajaknya ke Antiokhia dan menjadikannya salah seorang dari dewan pemimpin jemaat Antiokhia (Kis 11:25; 13:1).

Kepemimpinan Barnabas menjadi lebih jelas ketika ia diutus oleh jemaat dari Yerusalem ke Antiokhia, pada waktu jemaat di Antiokhia berkembang (Kis 11:22 st). Kita dapat bertanya mengapa bukan seorang dari antara para rasul yang diutus ke sana, seperti ketika jemaat Samaria berkembang dan yang diutus ke sana adalah Petrus dan Yohanes (Kis 8:14-15)? Anggota jemaat di Antiokhia sebagian besar adalah orang-orang bukan Yahudi. Rupanya Barnabas dipandang sebagai yang paling mampu memimpin dan mengembangkan jemaat seperti itu, yang sifat-sifatnya pasti lain dibandingkan dengan jemaat Yerusalem ataupun Samaria. Keberhasilan Barnabas ini jelas dikatakan dalam Kis 11:26, “Di Anthiokhialah murid-murid itu untuk pertama kalinya disebut kristiani”. Berkat kepemimpinan Barnabas, gereja di Antiokhia mempunyai cakrawala universal, bukan lagi sebatas akar Yahudi. Kesimpulan ini didukung oleh kenyataan bahwa karya misi gereja berawal di Antiokhia (Kis 13:2-3).

Dalam perkembangan selanjutnya juga tampak corak kepemimpinan Barnabas. Dalam perjalananan misi yang pertama, tampaknya terjadi pergeseran kepemimpinan. Barnabas sang pemimpin, menjadikan Paulus pemimpin yang baru. Ini dapat dilihat dalam pergeseran urutan nama. Pada permulaan perjalanan misi, kalau kedua orang itu disebut Barnabas selalu diletakkan pada urutan nomor satu, Paulus sesudahnya (Kis 13:1.4.7). Lama kelamaan urutan itu berubah, Paulus disebut terdahulu dan Barnabas kemudian (Kis 13:42,46 dan selanjutnya). Jelas bahwa Barnabas tidak menjalankan kepemimpinan transaksional atau konformatif, tetapi kepemimpinan transformatif.

Kepemimpinan Transformatif = Corak kepemimpinan Yesus. Kepemimpinan Transformatif terjadi dalam interaksi yang melibatkan diri pemimpin maupun yang dipimpin. Semua pihak membagikan pikiran-pikiran serta keyakinan pribadi dalam usaha dan menemukan bersama “yang baik”. Kalau proses ini berjalan, semakin tinggi pula nilai (misalnya keadilan, martabat manusia) yang ditemukan dan selanjutnya diperjuangkan. Nilai yang ditemukan itu semakin “transenden”, lepas dari kepentingan pihak-pihak manapun.

Dikutip dari “Memimpin dan Mengembangkan: sebuah pemikiran mengenai kepemimpinan kristiani”, oleh Ignatius Suharyo Pr