11 September 2011

Tahun II - No. 37


ALLAH YANG MAHA PENGAMPUN
Renungan dari Mat.18:21-35

Dalam bingkai percakapan antara Petrus dengan Yesus tentang hal mengampuni sesamanya (ay.21), Yesus menyampaikan perumpamaan tentang seorang raja yang bermurah hati untuk menghapus semua hutang yang besar seorang hamba. Percakapan diakhiri dengan peringatan Yesus akan konsekuensi apabila orang tidak mengampuni sesamanya (ay.35).

Perumpamaan dikisahkan oleh Yesus dengan amat menarik, yaitu bahwa raja menghapus seluruh hutang seorang hamba, sementara dia sendiri tidak mau menghapus orang lain yang berhutang kepadanya. Perumpamaan dari Yesus ini memberi motivasi kepada kita untuk mengampuni sesama. Dalam konteks bacaan ini, utang besar yang telah dihapuskan oleh raja hanya menunjuk kepada pengampunan yang luar biasa yang diberikan Allah kepada orang-orang berdosa. Kemurahan hati Allah yang mahapengampun ini haruslah menjadi daya dorong bagi kita untuk saling mengampuni kesalahan sesama.

Maka perumpamaan ini lebih mengarahkan kita semua agar secara tulus selalu berani mengampuni sesama saudara yang berbuat dosa. Yang dilihat bukanlah frekeuensi berapa kali orang lain harus diampuni, melainkan bagaimana kemurahan Allah yang seperti seorang raja mau menghapus hutang yang besar seorang hamba.

Pada akhir ayat dari kutipan injil ini, kita diberi peringatan keras apabila belum tergerak akan belas kasih Allah untuk berani mengampuni sesama yang bersalah. Kita selalu diingatkan oleh salah satu ungkapan dalam doa Bapa Kami, yang menyebutkan "ampunilah kesalahan kami seperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami" (Mat.6:12). Kutipan doa Bapa Kami ini hendaklah membuat kita selalu menyadari akan relasi kita dengan sesama kita dan sekaligus mengingat kemurahan hati Allah yang mau mengampuni segala dosa kita.

Kemurahan hati Allah juga tercermin dalam kutipan injil Lukas tentang Bapa yang berbelas kasih terhadap anak-anaknya (Luk.15:20). Maka pengalaman akan Allah yang mahamurah dan pengampun ini harus memberi arti yang kuat bagi kita semua untuk mengampuni kesalahan sesama kita. Warta apa yang kita mau sampaikan?

Mengampuni sesama kita merupakan suatu penyembuhan dalam relasi kita dengan sesama. Mengampuni merupakan sebuah ciri tindakan keallahan yang menjadikan dunia ini menjadi kerajaan Allah. Dengan tindakan pengampunan, kita diajak menciptakan dunia baru yang penuh dengan pembaharuan hidup.

Marilah kita memohon dorongan Roh Kudus agar membuka hati dan pikiran kita supaya dapat mengampuni setiap orang yang bersalah kepada kita dan juga supaya kita dapat membaharui dunia tempat tinggal kita.

Yus Noron, Pr

St. Maria Regina, Bintaro Jaya