5 September 2010

Tahun I – No. 02

HOMILI USKUP AGUNG JAKARTA, PADA PERAYAAN MISA PERESMIAN PAROKI SANTA MARIA REGINA, MINGGU 22 AGUSTUS 2010

Pertama-tama mewakili seluruh umat Keuskupan Agung Jakarta saya ingin mengucapkan proficiat kepada umat paroki baru Santa Maria Regina.

Pada kesempatan yang bagus ini, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada pastor paroki St Matius, Romo Silvano Laurenzi beserta rekan2 Imam, Dewan Paroki dan seluruh umat yang telah sekian tahun menyiapkan umat di wilayah ini sehingga sekarang ini pada hari ini, lahir sebagai paroki yang ke 61.

Saudari saudaraku yang terkasih, saya tidak tahu mengapa paroki ini atau stasi ini dulunya mengambil nama Maria Regina dan saya sengaja tidak bertanya mengapa demikian hanya ingin memberikan pekerjaan rumah tolong semua sejarah itu ditulis, supaya dapat menjadi sejarah karya penyelenggaraan Tuhan yang sungguh-sungguh sangat penting untuk paroki ini, untuk umat, untuk Keuskupan Agung Jakarta dan untuk gereja seluruhnya.

Sebetulnya saya merasa tidak usah memberi homili lagi karena yang dikatakan oleh Romo Laurenzi pada awal perayaan ekaristi ini sudah lebih dari pada cukup. Suatu sambutan suatu kata-kata yang begitu penuh makna, demikian juga buku panduan yang dipakai untuk peresmian paroki hari ini, doa-doanya, kata pengantar yang tadi tidak dibacakan, semuanya memuat renungan-renungan yang sangat dalam, jadi silahkan nanti membawa pulang buku panduan itu, membacanya sendiri dan merenungkannya, lalu misanya bisa dilanjutkan.

Namun baiklah saya menyampaikan satu gagasan kecil saja. Saya tidak tahu apakah para ibu dan bapak para Suster saudari saudara sekalian pernah bertanya apa sebetulnya arti kata paroki. Ini bahasa apa? Pasti jawabannya bahasa Indonesia, betul. Bahasa Betawipun, betul. Bahasa Jawa juga, betul. Tetapi pertanyaannya adalah asal usulnya darimana dan apa artinya?. Biasanya paroki dimengerti sebagai bagian didalam sistem organisasi gereja Katolik. Ini tentu penting, ini tentu sungguh-sungguh bermanfaat didalam pelayanan gereja, sehingga kadang-kadang orang berpikir kalau dari stasi menjadi paroki, itu gengsinya naik. Mungkin demikian, tetapi saya merasa bahwa yang akhirnya mengikuti adalah roh dari paroki itu dan roh dari paroki itu dapat kita cari berdasarkan arti kata paroki.

 

Asal usul kata paroki berasal dari bahasa  asing, bahasa Yunani yang artinya secara harfiah adalah rumah-rumah yang saling berdekatan satu sama lain, tetapi kalau hanya rumah-rumah yang saling berdekatan itu juga hanya fisik. Rumahnya berdekatan, penghuninya dapat berkelahi terus setiap hari. Namun yang dimaksudkan dengan rumah-rumah yang berdekatan, akhirnya yang paling penting adalah, hati yang dekat satu sama lain. Orang-orang beriman murid-murid Yesus Kristus yang berdasarkan inspirasi imam itu membangun satu komunitas, satu persaudaraan umat beriman.

Pertanyaan berikutnya muncul adalah, apa yang dimaksudkan dengan persaudaraan? Saya yakin kalau saya memberikan kesempatan kepada umat untuk menjawab pertanyaan ini apa itu persaudaraan, saya yakin jawabannya bermacam-macam dan saya yakin juga bahwa semuanya benar, tergantung dasar jawaban itu diambil dari mana. Saya ingin menawarkan satu jawaban yang dasarnya saya ambil dari bacaan injil pada  hari ini. Sekali lagi pertanyaannya adalah apa artinya persaudaraan yang dilandaskan dapat menjadi menjadi roh dari kehidupan suatu paroki.

Yang pertama, untuk dapat membangun suatu persaudaraan yang sejati, masing-masing mesti sadar, perlu sadar akan panggilan dan perutusannya sendiri-sendiri, sadar akan tempatnya didalam sejarah karya penyelamatan Allah. Dari mana saya menyimpulkan ini, dari bacaan yang tidak ada disini yang mesti dibaca supaya bacaan Injil ini semakin bermakna. Sebelum kutipan ini, ada kisah Maria menerima kabar gembira dari malaikat Tuhan dan sesudah mendapat kabar gembira itu, Maria akhirnya mengatakan, “Aku ini hamba Tuhan, jadilah padaku menurut sabdaMu” Ini adalah ungkapan, keyakinan, kesadaran akan panggilan dan terutus. Maria diutus oleh Allah untuk melakukan sesuatu.

Kita masing-masing juga mempunyai kesadaran akan panggilan dan perutusan itu. Para Imam dipanggil untuk menjadi imam, para Suster dipanggil untuk menjadi Biarawati, ibu dan bapak dipanggil untuk membangun keluarga Katolik yang baik. Dipanggil untuk mewartakan kerajaan Allah ditengah-tengah pekerjaaan dan tanggung jawab, ditengah-tengah masyarakat dan seterusnya. Itu yang pertama, tanpa kesadaran bahwa saya punya panggilan, bahwa saya punya perutusan, persaudaraan yang sejati tidak akan jadi.

Yang kedua adalah, bersama-sama saling meneguhkan. Darimana kesimpulan itu saya ambil? Ketika Maria menjawab aku ini hamba Tuhan, saya tidak tahu ibu bapak, saudari saudara membayangkan Maria yang macam apa yang mengucapkan jabatan itu. Saya membayangkan Maria pada waktu itu ketakutan, takut untuk mengemban tugas panggilan itu. Oleh karena itu ia mengunjungi Elisabeth saudaranya, dia cari teman secara manusiawi wajar sekali ketika orang cemas, ketika orang bingung, ketika orang takut dia mencari teman. Dan itulah yang dikerjakan oleh bunda Maria, mengunjungi Elisabeth. Dan apa yang terjadi disana? Maria meneguhkan panggilan Elisabeth dan Elisabeth meneguhkan panggilan Maria. Saling meneguhkan, saling menjadi berkat, itulah unsur yang kedua dari suatu persaudaraan. Maka setiap perjumpaan yang kita alami didalam kehidupan kita  sungguh-sungguh mempunyai makna yang sangat penting. Bukan perjumpaan yang tanpa makna tetapi perjumpaan yang saling meneguhkan.

Unsur yang ketiga, sesudah diteguhkan oleh Elisabeth, bunda Maria menyanyi. Apa yang dinyanyikan sebetulnya? Yang dinyanyikan adalah harapan, sehingga unsur yang ketiga yang saya yakini supaya kita dapat membuat, membangun suatu persaudaraan ialah kalau kita hidup dalam pengharapan. Dari mana saya simpulkan hal itu? Dari kalimat terakhir dalam Injil. Dalam nyanyiannya Maria mengatakan, karena ia mengingat rahmatnya seperti yang dijanjikanNya kepada nenek moyang kita. Harapan itu berarti hidup berdasarkan janji Allah. Tidak sekedar hidup berdasarkan perhitungan-perhitungan sendiri. Harapan, itu tidak sama dengan optimisme. Optimisme itu biasanya dilandaskan pada perhitungan-perhitungan atau naluri, misalnya; saya optimis nanti tahun 2016 Jakarta tidak macet, optimis. Nanti kalau ternyata tahun 2016 Jakarta masih macet, optimisme saya hilang, harapan lah. Harapan itu landasannya adalah iman bahwa Allah yang telah memulai karya yang baik tidak akan menyelesaikannya sendiri. Itu berarti kalau kita kurang berhasil, tidak apa-apa, tidak putus asa karena apa? karena Allah tidak akan gagal. Kalau kita berhasil kita tidak sombong karena yang kita hasilkan itu bukan pekerjaan kita tetapi Allah yang telah memulai karya penyelamatan ini akan menyelesaikannya.

Sebagai penutup saya tidak akan bacakan, saya persilahkan nanti membaca pengantar didalam buku panduan misa hari ini disana pesan-pesan itu diringkaskan. Sekali lagi selamat atas rahmat Tuhan yang kita terima pada hari ini, selamat pesta pelindung Santa Maria Regina semoga syukur kita diterima Tuhan dan perlindungan bunda Maria kita alami setiap saat didalam hidup kita, Tuhan memberkati.

******